KEARIFAN LOKAL DALAM TEATER MODERN INDONESIA
Putu Wijaya
Ketika kata drama diberikan padan kata dalam bahasa Indonesia dengan “sandiwara”, banyak orang menduga bahwa itulah cara terbaik dalam mengadopsi drama agar dapat diterima oleh masyarakat luas. Tetapi dengan kata sandiwara (sandi = rahasia, wara = kabar, kabar rahasia) ada 2 hal besar telah tertanam yang membawa dampak panjang dan dalam. Sebuah kesalahan besar sudah terjadi yang nyaris merupakan sebuah kejahatan yang tidak disadari.
Pertama, drama diakui sebagai barang impor yang berasal dari Barat. Maka sebagai konsekuensinya, Barat kemudian menjadi nara sumber, kiblat yang mendikte perkembangan sandiwara. Dengan tunduk pada estetika Barat, maka harmoni di dalam teater tradisi yang sudah mengakar dan hidup terasa salah, kuno, kampungan atau kedaluwarsa. Ini semacam kolonialisme baru, yang menyebabkan, arti kemerdekaan menjadi mentah.
Yang kedua, drama adalah pertunjukan yang didominasi oleh tutur dengan cerita/kabar yang menjadi unsur pokoknya. Dengan memproklamirkan sebagai seni tutur, unsur tari dan (seni) suara tertendang hanya sebagai unsur sampingan yang tidak penting. Cerita (wara) menjadi primadona, sehingga kebaruan cerita menjadi dimulyakan. Sementara di dalam teater tradisi, cerita hanya menjadi salah satu syarat berkumpul. Bagaimana cerita itu disampaikan (misalnya dalam wayang) , itulah yang menjadi bagain penting dari setiap pergelaran.
Kedua tonggak yang ditancapkan sandiwara itu, menyebabkan sandiwara terpisah habitatnya dengan teater tradisi. Sandiwara hanya hidup di lingkungan terpelajar dan perkotaan. Wilayah itu kemudian memberikan status sosial. Seni drama adalah tontonan kaum terpelajar/menengah ke atas. Di situ Barat tidak hanya sekedar referensi, menjadi kiblat. Estetika Barat menjadi hukum dan dogma yang bahkan kemudian menyebabkan sandiwara bermusuhan dengan kehidupan teater tradisi yang berkiblat pada kearifan lokal.
Sandiwara atau drama yang kemudian dikenal dengan sebutan teater modern, mempergunakan bahasa Indonesia. Pertunjukannya yang memulyakan realisme, penuh kesadaran terhadap kehadiran penonton yang terpisah dari tontonan. Sementara teater tradisi berada di sebaliknya.
Teater tradisi memakai bahasa daerah, erat hubungannya dengan upacara dan merupakan peristiwa bersama yang seringkali bernuansa spiritual. Dalam kegiatan teater tradisi tak ada batas antara seni tutur dengan seni tari dan seni suara. Teater tradisi adalah tontonan dengan segala unsur yang memungkinkan untuk berekspresi. Tak ada batas antara tontonan dan penonton.
Bertahun-tahun terjadi pemisahan dan permusuhan diam-diam antara teater modern dan teater tradisi. Tak kurang dari akademi-akademi teater sendiri, mengartikan mempelajari teater adalah mempelajari teater Barat. Teater tradisi dipenjarakan delam label “kesenian daerah”. Para pengadi teater sama sekali tidak peduli, bahwa di dalam teater tradisi begitu banyak ilmu. Kearifan yang bahkan membuat maestro pelopor teater modern di mancanegara seperti Antonin Artoud, Bertold Brecht dan Peter Brook belajar dan menyusun paradigma teaternya yang kemudian menentukan perjalanan teater Barat sendiri.
Perbedan kedua jenis teater itu (teater modern dan teater tradisi) mulai terhenti ketika Taman ismail Marzuki berdiri pada tahun 1968. Berbagai interaksi intensif yang terjadi di TIM selama 10 tahun, antara kedua jenis teater itu, melahirkan satu kesepakatan baru. Saya menamakannta “tradisi baru”. Tradisi baru adalah upaya untuk melepaskan Barat sebagai kiblat dan menganggapnya hanya salah satu referensi saja.
Puncak-puncak pencapaian pertunjukan teater pada era 70-an (Bengkel Teater, Teater Populer, Teater Kecil, STB, berbagai kelompok tetar dari beberapa kota antara lain: Medan, makasar, Surabaya, Yogya dll) menjadi referensi baru. Tradisi Bari menjadi tempat kehidupan teater modern Indonesia berkiblat pada akar Indoneisa dalam perkembangan selanjutnya.
Sejak adanya tradisi baru, teater modern Indonesia tidak lagi terpisah dengan teater tradisi. Keduanya membangun kerjasama dan melahirkan teater modern Indonesia yang Indonesia. Berbagai idiom teater tradisi yang berasal dari kearifan lokal memperkaya dan sekaligus membuat kehidupan teater modern di Indonesia menjadi berakar kepada tradisi.
Interaksi tak hanya terbatas pada bentuk, tetapi lebih dari itu, justru interaksi di dalam semangat, jiwa dan roh yang membuat perjalanan teater modern Indonesia berubah. Kini teater Indonesia bukan lagi hanya sekedar “sandiwara”, tetapi ekspresi manusia Indonesia dalam wujud tontonan.
Dan tontonan bukan lagi hanya sekedar pertunjukan yang menjadi penghibur bagi penonton yang terhormat karena sudah membeli karcis, tetapi peristiwa bersama. Sebuah upacara bersama untuk mendapatkan pengalaman batin yang dapat memperkaya baik yang menonton maupun yang menontonkan.
Bila Barat memulai dramaturginya dari masa Yunani Kuno, kita perlu mencatat, agar kemudian mengetahui betapa panjang proses yang sudah ditempah teater Barat, sebelum sampai pada Shakespearre, Molierre, Stanilavsy. Bolelavsky , Antonin Artoud. Brecht, Grotosky, Ionesco, Beckett dan sebagainya.
Tetapi bila teater Indonesia kontemporer hendak disimak, tak cukup hanya berkaca pada dramaturgi Barat, karena wayang, ludruk, ketoprak, makyong, debus, jatilan dan sebagainya sudah ikut ambil bagian. Memahami pertunjukan-pertunjukan Indonesia dari hanya kaca-mata Barat, adalah sebuah kesalahan besar, yang seharusnya tidak dilakukan lagi.
Perjalanan teater modern Indonesia yang bahu membahu dengan teater tradisi sejak masa tradisi baru sempat melahirkan naskah-naskah baru. Idiom-idiom baru. Para pekerja teater yang baru. Kesemuanya itu memberikan harapan terhadap masa depan teater modern Indonesia yang akan sangat berperan di blantika internasional. Teater Indonesia, sebagaimana juga teater India, Jepang dan Cina, memiliki latar belakang yang kaya dan kuat untuk tampil sebagai salah satu pilar teater dunia.
Tetapi belakangan ini, karena miskinnya dokumentasi, seluruh proses kreatif “tradisi baru” itu mulai kematian angin. Sejalan dengan merosotnya kembali perkembangan teater modern Indonesia yang diakibatkan oleh bangkitnya industri dalam kehidupan kesenian Indonesia, temuan-temuan berharga mulai tercecer. Dan ketika gas teater mulai ditancap lagi, di dalam Festival Teater Jakarta, misalnya, nampak rada terlambat. Arus balik untuk kembali berkiblat kepada Barat sudah mulai santer kembali.
Itulah pentingnya untuk membongkar kembali, dokumen-dokumen dari gudang teater kita yang tidak terpelihara. Betapa berharganya sudah temuan-temuan yang kita hasilkan. Bagaimana menjaga agar tradisi baru itu terus menjadi kendaraan, untuk menyalakan tungku kearifan lokal dalam tradisi ke dalam ke kehidupan teater modern Indonesia. Tak hanya bentuk, tetapi terutama jiwanya.
Belum lama, saya dan Teater Mandiri menyelenggarakan roadshow ke 13 kota dalam rangka mempeingati 100 hari kepergian Rendta. Di Mojokerto kami menemukan sound system, lighting yang kurang memadai untuk bisa menampilkan pertunjukan di Gelanggang Olahraga yang besar itu. Beberapa kesalahan teknis terjadi. Untuk menutupinya, sambil main saya berkomunikasi langsung dengan para awak pentas, pura-pura marah dan memberikan arahan. Penonton yang semula sangat pasif kemudian jadi encer dan tertawa, ketika batas tontonan ditembus seperti itu. Sejak saat itu pertunjukan menjadi komunikatif dan meriah.
Tapi apa kata seorang wartawan yang menulis di Radhar Mojokerto. Dia mengeritik saya dengan mengatakan bahwa aksi saya terganggu karena saya jadi sempat marah-marah pada awak pentas yang sebenarnya adalah anak buah yang sudah saya latih sendiri. Dalam contoh itu jelas, penulis resensi tidak paham, bahwa kemarahan itu disengaja untuk mengatasi keadaan, sehingga jurang antara penonton dan tontonan tertutupi, sebagaimana yang sangat biasa dilakukan dalam pertunjukan tradisi.
Mengingatkan betapa hebatnya kekayaan dalam teater tradisi dan betapa salahnya kalau memusuhi tradisi, memang sesuatu yang sudah klise. Tetapi terpaksa harus kita lakukan lagi sekarang, karena adanya arus balik untuk kembali mencampakkan tradisi dan terbius oleh hasrat berkiblat ke Barat. Kolonialisme budaya yang juga klise itu, harus kita lawan sebelum benar-benar menelan kita habis.
Jakarta 14 Desember 09




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas kritik dan sarannya