aku cinta alief

Minggu, 19 Desember 2010

kegundahan jangan diembat sendiri
nyatakan pada angin jika tak mau berbagi
dengan konsentrasi
partikel pintamu akan dibawa melalui celah kecil
untuk sampai disinggasana-Nya
yakinlah sahabatkubuanglah pernyataanmu
bagai kain kafan belum terpendam

Rabu, 08 Desember 2010

puisi ku hari ini

secangkir kopi, sebatang rokok tak lagi dapat tenangkan hati,
kemana langkah kaki, dan tatapan mata kosong tak pula damaikan diri,
resahku, gundahku,
menyatu melebur jadi satu,
nafasku, darahku,
...mengubur dalam ragu
tenagaku, lemahku,
sisakan perih yang tak tentu

aku, mayat hidup yang tak berlagu

Senin, 29 November 2010

puisi

sabar bukanlah saat kita menunggu sesuatu berlama-lama
bukan pula tidak menangis saat diuji
sabar juga bukan tidak mengeluhsaat sakit
namun sabar adalah dimana kita bisa mengalahkan ego kita untuk menyikapi keadaan dengan syukur demi perbaikan keadaan
sehingga kita bisa tidak mengeluh saat bosan
tidak menangis saat diuji
tidak mengeluh saat sakit
da mengalah saat marah

puisi ke dua

aku rangkai kata walau tak seperti puisi
aku rangkai lagu walau tak semerdu kicauan burung beradu
tapi hasrat jiwa karya
tetap tertorehdi dadaku
untuk aku sembahkan pada dunia gersang ibu pertiwiku

puisi ke tiga

oh sang pujangga
kau surat kata penuh sirat makna
semoga mimpi tertuang jadi nyata
demi cinta, gelar tikar dunia
senyum bibir hati mendengung
langkah hidup lajur tegap usaha
semangat kucur genggam api bara
muncul cahya pelita getar kumpulan kata
rabahkan diri pejam hati dan mata
tetap nyalakan rasa syukur
pada Tuhan

puisi ke empat

rangkullah ibu pertiwi pada jiwa-jiwa penuh patriotisme
tak gila merah putih menjulang di langit
itu hasil semangat rela berkorban
hasil perjuangan darah didih para pahlawan
ayo lihat tiang merah putih
ia berkibar gagah
menunjukkan mimpi kedigdayaan indonesia
pada dunia belah dunia nyata
persatuan dan kesatuan demi wujud cita

generasi briliyan
tunjukkan merah putih mu
wujudkan impian pahlawanmu
hargai jasa pahlawanmu
terus belajar gapai cita
raih dunia untuk indonesia
penuh semangat

Selasa, 02 November 2010

puisi

seorang dewi nenenangkan diri menghadapi pusaran kehidupannya,
mencaci kehidupannya sendiri yang tak luput dari nista hati,
meneguk himpunan-himpunan asa yang tiada tara,
yang hanya menikmati indahnya khayalan yang tak kunjung datang benarnya.....

puisi lagi

selamat malam
sapaan dari sang sunyi
hadiah dari malam sepi
adalah bingkai malam nestapa dalam duka
puisi sang malam

mungkinkah waktu dapat berhenti
agar yang terbaik dalam hidup tak akan terlewat
lelaplah dirimu dalam rengkuhan malam
bintangkan terjaga dan akan slalu menjagamu
coba mainkanlah lagu lama
hingga kau terbuai dalam mimpi-mimpimu
terbanglah dalammimpi
dan tertawalah dalam mimpi
agar kau selalu indah
meski saat malam menjelang hingga keabadian datang


bagus nih......religi

kesunyian membawa angan-anganku melayang
gambarkan sejuta tafakkurku pada kebesaran-Nya
namun kesunyian menggiring pula ingatanku
pada orang-orang yang tercinta selama ini
ya Allah,
lindungilah ia

dari konco Pati......

mentari datang kepadaku dari ufuk timur
seakan malu menyapaku dengan senyuman hangatnya nan damai
yang selalu memberi semangat dan keberanian
untuk memecahkan teka-teki keadilan

satu lagi....... kurang ajar

ayo kita galangkan permusuhan antar umat manusia
agar kita jadi masuk surga
bersama setan yang ganteng. amin

Jumat, 08 Oktober 2010

puisi dari kawan-kawan

bertabur kasih berjuta sayang merangkuh cinta,
lewat angan berbagai rindu,
dalam hayalan bersenandung mesra,
dalam impian,
seiring senyum,
sehangat pelukan dengan setulus hati

DA LAGI NIH

andai hati ini tak rindu,
aku tak ingin pulang,
biarkan jiwaku tidur abadi
di angin malam jalanan
karena aku masih punya dosa
ditanah kelahiranku
aku ingin pulang padanya

KALO YANG NIH......

kala sang dewi senja meminta alam dengan helaian cahaya emasnya,
mengiring nyanyian para muadzin
memahat hamparan permadani,
raksa-raksa dengan rajuk setitik keimanannya,
cumbu manja anggunnya bara,
dahaga pemeluk raga,
kini telah padam
oleh cucuran peluh kesabaran
yang mengkristal dari rongga-rongga nafsu para hamba,
pendamba BABU ROYYAN santun menyapanya

NI AGAK PANJANG

Malam sudah larut
angin sangat lembut
aku sudah siap terhanyut
tidur
istirahat dari siang gerah penuh kemelut,

kalau besok matahari menggeliat
segera penuh rasa terima kasih pada udara
kepada burung yang berkicau
kepada semua saja
yang ku hirup
yang ku rasa
yang ku raba
yang ku lihat
yang ku dengar
yang ku pikirkan
yang ku bayangkan
yang kadang menyakitkan
atau barangkali
besok aku diam
kaku
membeku
tak ikut lagi melihat
kuntum-kuntum bunga
namun jiwaku tetap segar
tetap penuh rasa
terima kasih

capek............dech!

Jumat, 24 September 2010

idhul fitri

Datang ku sambut bulan syawal
dengan sedikit kegembiraan
hilang tersapu dosa dan benci
dendampun tak lagi bersarang dihati

Menetes perlahan air mata
mengalir disela hidung dan pipi
aku belum sebersih apa
tetap membintik noda ini

selamat idhul fitri 1431 H walau terlambat tapi tak mengurangi rasa hormatku pada kawan-kawanku terutama teater alief

Kamis, 29 Juli 2010

Selamat Datang

Selamat datang ku sambut engkau
dengan harap semoga lebih baik dihari esok
bukan sekedar impian dan harapan
namun kerja keras dan semangat yang harus dilakukan

Selamat datang kehinaan
dengan tetesan air mata kesedihan
bukan sekedar kegalauan rasa dan jiwa
namun ketegaran dan kebangkitan yang ku inginkan

Selamat menempuh jalan
dengan tekat baja kita tegakkan kebenaran
dan kebaikan

Rabu, 14 Juli 2010

Bukan

Bukan kata bukan rasa
bukan pikiran bukan tindakan

Namun sejarah
yang mengukir dunia

Tapi
Semua karena pikiran dan tindakan
dan terasa
juga terucap

Senin, 22 Februari 2010

Manfaat Metafisika


Tenaga Metafisika adalah gelombang energi yang menyelubungin tubuh yang dinamakan AURA. Energi ini dapat diperkuat melalui penyerapan energi dari alam semesta. Pada diri kita, Tenaga Metafisika (AURA) ini berada pada sekujur tubuh, menyelubungi dan menyelimuti kontur tubuh. Pada umunnya aura ini kehadirannya tidak kita sadari. Pancaran aura, terekspresikan sebagai pendaran cahaya dengan berbagai variasi lapisan berwarna, sesuai dengan tinggi rendahnya frekwensi dan panjang gelombang yang dipancarkan. Peningkatkan intensitas aura pada tubuh kita sangat dimungkinkan. Dengan meningkatkan kemanpuan rekatasa dalam olah gerak dan olah nafas agar terbuka kesiapan dalam menerima interaksi dengan energi alam.


Aura ini adalah pancaran energi yang nyata-nyata telah dianugerahkan-Nya kepada kita yang bermanfaat sebagai tirai selubung tubuh terhadap gangguan energi negatif dari luar sistem tubuh kita. Namun ketebalan aura ini sangat relatif, bergantung pada upaya kita sendiri dan atas kehendak-Nya.

Energi aura terdiri dari ion-ion positif dan negatif sehingga dapat dimodifikasi dengan kekuatan tanpa batas, dengan catatan energi yang dimiliki orang tersebut besar sekali, dan itu bisa dilatih. Energi ini mempunyai jenis dan ras tersendiri dan mempunyai sifat hukum tersendiri. Kegunaannya sangat banyak sekali, tanpa batas. Asal kita mau memperkuatnya dengan jalan menyerapnya dari alam semesta. Dengan kekuatan metafisik ini, kita dapat melakukan; pertahanan diri, lari cepat, melawan dan menghancurkan jin, pengobatan, terawangan, pukulan jarak jauh dan ribuan kegunaan lainnya.

Adapun manfaat tenaga metafisika yang dapat diperkuat dengan menyerap energi alam dikelompokan didalam meningkatkan:

Kondisi dan kemanpuan fisik:

Daya tahan tubuh, melipatgandakan tenaga, menambah ketajaman panca indera, membangkitkaan indera ke enam, ilmu meringankan tubuh.

Kondisi mental:

Mempertebal percaya diri, memperkuat memori otak, dapat merangsang daya kerja otak agar bisa menampung memori lebih cepat dan tahan lama.

Fungsi hubungan social:

Dapat meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit dan membantu pengobatan.


Media Pengobatan Penyakit..

Kesehatan seseorang bisa dilihat dari tebal-tipis Aura yang disebabkan ketidakseimbangan metabolisme tubuh. Seseorang yang diperkuat Aura dengan menyerap energi alam atau dibantu terapis sangat membantu metabolisme tubuh lebih baik. Seseorang yang memiliki Aura yang kuat manpu menrubah frekwensi gelombang elektromagnetiknya untukk progam pengobatan: regenerasi sel, peningkat antibody, penyeimbang metabolisme tubuh, penyeimbang kimia tubuh dan sebagainya.

Media Perlindungan Diri Dari Serangan Fisik..

Aura yang kuat bisa diprogam sebagai selubung pertahanan diri (shield) yang menahan serangan fisik dan non fisik, atau bisa dipergunakan untuk pukulan jarak jauh yang mementalkan lawan. Semua itu dengann syarat lawan dalam kondisi emosi karena cara kerjanya menpengaruhi aura lawan yang sedang karena ion-ion yang ada ditubuh orang tersebut tidak stabil sehingga menyebabkan overload parsial adalah ketidakseimbangan ion positif dan negatif tubuh seseorang akibatnya apabila kita tembakan ion negatif lain yang lebih besar maka akan terjadi tumbukan ion, akibatnya orang itu terpental.

Media Perlindungan Diri Dari Serangan Non fisik.

Aura yang kuat bisa untuk melawan bangsa jin bahkan menbunuhnya dengan menciptakan selft combustion dalam tubuh jin. Kita bisa menfokuskan aura membentuk gelombang elektromagnetik untuk mengatasi gangguan energi negatif di beberapa tempat yang disebabkan berbagai hal, mulai dari gangguan jin atau bahkan “dikondisikan” oleh orang lain, agar orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut menjadi tidak betah atau bahkan menjadi sakit. gelombang ini bahkan bisa menetralkan tempat yang dikenal seram dalam radius puluhan kilometer persegi, atau meliputi satu kota.

Media Peningkatan Kepekaan Dan Pengendalian Diri.

Aura yang diperkuat akan menjadi pembangkit dan trigger bagi Extra Sensory Persepsion dalam diri sendiri. Salah satunya mensupport fungsi lain kelenjar pituitary dalam menangkap signal – signal yang tidak bisa ditangkap panca indera. Signal – signal ini menjadi input dan output otak yang berupa feeling, visual dan audio.kemanpuan ini yang dikenal masyarakat dengan istilah; terawangan atau mata bathin, atau dalam bahasa sunda disebut “ilmu ngimpleng”. Ilmu ini sangat berguna untuk menlihat bangsa jin. mengetahui kejadian dari jarak jauh, juga bisa dipergunakan untuk mencari barang hilang

Media Pengendalian Cuaca.

Mekanika quantum, yaitu suatu loncatan besar dari suatu tingkatan ke satu tingkatan lain yang lebih tinggi, bisa dilakukan oleh manusia. Baik yang berkaitan dengan tubuhnya maupun yang berkaitan dengan alam, diantaranya dengan cuaca.Tenaga Metafisika atau biasa disebut aura terdiri dari ion positif dan negatif juga -- yang saat ini sudah bisa difoto melalui Aura Camera 3000. energi ini apabila difokuskan ke awan, misalnya, maka akan berpengaruh pada ion-ion yang menyusun awan tersebut.

Mekanika quantum akan terjadi dengan lebih baik apabila terjadi dalam unsur yang tidak berbentuk fisik, dalam hal ini awan yang terdiri dari molekul Hidrogen, Oksigen dan ion-ion positif serta negatif, merupakan media yang bisa diamati jika terjadi pemfokusan ataupun netralisir (penghilangan) awan yang dilakukan oleh energi manusia. Hal inilah yang menjadi dasar kenapa manusia bisa mengendalikan cuaca.

Media Pengendalian Massa.

Otak manusia mengeluarkan gelombang tertentu yang bisa mempengaruhi orang lain, misalnya ia memanggil atau menasehati orang lain. Hal ini bisa terjadi secara langsung (face to face) ataupun melalui alat bantu lainnya, seperti telephone, internet ataupun televisi. Contoh sederhana adalah apabila seorang anak mengalami kecelakaan, biasanya seorang ibu mempunyai firasat tertentu, baik itu berupa kecemasan terhadap anaknya, spontan memanggil nama anaknya, menjatuhkan benda yang dipegangnya, dll.

Rabu, 17 Februari 2010

Lama Sudah

Lama sudah otakku tak mengalir pada kertas
Lama sudah ideku beku dalam dinginnya mimpi
Lama sudah ku akrak dengan kegelapan goa kesunyian
Lama sudah,
dan terlalu lama

Aku jalani semua tanpa kawan
Aku hadapi semua rintangan penuh beban
Aku sebrangi tingginya ombak dengan sejuta semangat
dan aku terkapar lemah tak berdaya
karena aku sendiri
dan telah lama begini

Kamis, 07 Januari 2010

Ilmu Pengetahuan Seni (IPS)

KEARIFAN LOKAL DALAM 
TEATER MODERN INDONESIA
Putu Wijaya


Ketika kata drama diberikan padan kata dalam bahasa Indonesia dengan “sandiwara”, banyak orang menduga bahwa itulah cara terbaik dalam mengadopsi drama agar dapat diterima oleh masyarakat luas. Tetapi dengan kata sandiwara (sandi = rahasia, wara = kabar, kabar rahasia) ada 2 hal besar telah tertanam yang membawa dampak panjang dan dalam. Sebuah kesalahan besar sudah terjadi yang nyaris merupakan sebuah kejahatan yang tidak disadari.

Pertama, drama diakui sebagai barang impor yang berasal dari Barat. Maka sebagai konsekuensinya, Barat kemudian menjadi nara sumber, kiblat yang mendikte perkembangan sandiwara. Dengan tunduk pada estetika Barat, maka harmoni di dalam teater tradisi yang sudah mengakar dan hidup terasa salah, kuno, kampungan atau kedaluwarsa. Ini semacam kolonialisme baru, yang menyebabkan, arti kemerdekaan menjadi mentah.

Yang kedua, drama adalah pertunjukan yang didominasi oleh tutur dengan cerita/kabar yang menjadi unsur pokoknya. Dengan memproklamirkan sebagai seni tutur, unsur tari dan (seni) suara tertendang hanya sebagai unsur sampingan yang tidak penting. Cerita (wara) menjadi primadona, sehingga kebaruan cerita menjadi dimulyakan. Sementara di dalam teater tradisi, cerita hanya menjadi salah satu syarat berkumpul. Bagaimana cerita itu disampaikan (misalnya dalam wayang) , itulah yang menjadi bagain penting dari setiap pergelaran.

Kedua tonggak yang ditancapkan sandiwara itu, menyebabkan sandiwara terpisah habitatnya dengan teater tradisi. Sandiwara hanya hidup di lingkungan terpelajar dan perkotaan. Wilayah itu kemudian memberikan status sosial. Seni drama adalah tontonan kaum terpelajar/menengah ke atas. Di situ Barat tidak hanya sekedar referensi, menjadi kiblat. Estetika Barat menjadi hukum dan dogma yang bahkan kemudian menyebabkan sandiwara bermusuhan dengan kehidupan teater tradisi yang berkiblat pada kearifan lokal.

Sandiwara atau drama yang kemudian dikenal dengan sebutan teater modern, mempergunakan bahasa Indonesia. Pertunjukannya yang memulyakan realisme, penuh kesadaran terhadap kehadiran penonton yang terpisah dari tontonan. Sementara teater tradisi berada di sebaliknya.

Teater tradisi memakai bahasa daerah, erat hubungannya dengan upacara dan merupakan peristiwa bersama yang seringkali bernuansa spiritual. Dalam kegiatan teater tradisi tak ada batas antara seni tutur dengan seni tari dan seni suara. Teater tradisi adalah tontonan dengan segala unsur yang memungkinkan untuk berekspresi. Tak ada batas antara tontonan dan penonton.

Bertahun-tahun terjadi pemisahan dan permusuhan diam-diam antara teater modern dan teater tradisi. Tak kurang dari akademi-akademi teater sendiri, mengartikan mempelajari teater adalah mempelajari teater Barat. Teater tradisi dipenjarakan delam label “kesenian daerah”. Para pengadi teater sama sekali tidak peduli, bahwa di dalam teater tradisi begitu banyak ilmu. Kearifan yang bahkan membuat maestro pelopor teater modern di mancanegara seperti Antonin Artoud, Bertold Brecht dan Peter Brook belajar dan menyusun paradigma teaternya yang kemudian menentukan perjalanan teater Barat sendiri.

Perbedan kedua jenis teater itu (teater modern dan teater tradisi) mulai terhenti ketika Taman ismail Marzuki berdiri pada tahun 1968. Berbagai interaksi intensif yang terjadi di TIM selama 10 tahun, antara kedua jenis teater itu, melahirkan satu kesepakatan baru. Saya menamakannta “tradisi baru”. Tradisi baru adalah upaya untuk melepaskan Barat sebagai kiblat dan menganggapnya hanya salah satu referensi saja.

Puncak-puncak pencapaian pertunjukan teater pada era 70-an (Bengkel Teater, Teater Populer, Teater Kecil, STB, berbagai kelompok tetar dari beberapa kota antara lain: Medan, makasar, Surabaya, Yogya dll) menjadi referensi baru. Tradisi Bari menjadi tempat kehidupan teater modern Indonesia berkiblat pada akar Indoneisa dalam perkembangan selanjutnya.

Sejak adanya tradisi baru, teater modern Indonesia tidak lagi terpisah dengan teater tradisi. Keduanya membangun kerjasama dan melahirkan teater modern Indonesia yang Indonesia. Berbagai idiom teater tradisi yang berasal dari kearifan lokal memperkaya dan sekaligus membuat kehidupan teater modern di Indonesia menjadi berakar kepada tradisi.

Interaksi tak hanya terbatas pada bentuk, tetapi lebih dari itu, justru interaksi di dalam semangat, jiwa dan roh yang membuat perjalanan teater modern Indonesia berubah. Kini teater Indonesia bukan lagi hanya sekedar “sandiwara”, tetapi ekspresi manusia Indonesia dalam wujud tontonan.

Dan tontonan bukan lagi hanya sekedar pertunjukan yang menjadi penghibur bagi penonton yang terhormat karena sudah membeli karcis, tetapi peristiwa bersama. Sebuah upacara bersama untuk mendapatkan pengalaman batin yang dapat memperkaya baik yang menonton maupun yang menontonkan.

Bila Barat memulai dramaturginya dari masa Yunani Kuno, kita perlu mencatat, agar kemudian mengetahui betapa panjang proses yang sudah ditempah teater Barat, sebelum sampai pada Shakespearre, Molierre, Stanilavsy. Bolelavsky , Antonin Artoud. Brecht, Grotosky, Ionesco, Beckett dan sebagainya.

Tetapi bila teater Indonesia kontemporer hendak disimak, tak cukup hanya berkaca pada dramaturgi Barat, karena wayang, ludruk, ketoprak, makyong, debus, jatilan dan sebagainya sudah ikut ambil bagian. Memahami pertunjukan-pertunjukan Indonesia dari hanya kaca-mata Barat, adalah sebuah kesalahan besar, yang seharusnya tidak dilakukan lagi.

Perjalanan teater modern Indonesia yang bahu membahu dengan teater tradisi sejak masa tradisi baru sempat melahirkan naskah-naskah baru. Idiom-idiom baru. Para pekerja teater yang baru. Kesemuanya itu memberikan harapan terhadap masa depan teater modern Indonesia yang akan sangat berperan di blantika internasional. Teater Indonesia, sebagaimana juga teater India, Jepang dan Cina, memiliki latar belakang yang kaya dan kuat untuk tampil sebagai salah satu pilar teater dunia.

Tetapi belakangan ini, karena miskinnya dokumentasi, seluruh proses kreatif “tradisi baru” itu mulai kematian angin. Sejalan dengan merosotnya kembali perkembangan teater modern Indonesia yang diakibatkan oleh bangkitnya industri dalam kehidupan kesenian Indonesia, temuan-temuan berharga mulai tercecer. Dan ketika gas teater mulai ditancap lagi, di dalam Festival Teater Jakarta, misalnya, nampak rada terlambat. Arus balik untuk kembali berkiblat kepada Barat sudah mulai santer kembali.

Itulah pentingnya untuk membongkar kembali, dokumen-dokumen dari gudang teater kita yang tidak terpelihara. Betapa berharganya sudah temuan-temuan yang kita hasilkan. Bagaimana menjaga agar tradisi baru itu terus menjadi kendaraan, untuk menyalakan tungku kearifan lokal dalam tradisi ke dalam ke kehidupan teater modern Indonesia. Tak hanya bentuk, tetapi terutama jiwanya.

Belum lama, saya dan Teater Mandiri menyelenggarakan roadshow ke 13 kota dalam rangka mempeingati 100 hari kepergian Rendta. Di Mojokerto kami menemukan sound system, lighting yang kurang memadai untuk bisa menampilkan pertunjukan di Gelanggang Olahraga yang besar itu. Beberapa kesalahan teknis terjadi. Untuk menutupinya, sambil main saya berkomunikasi langsung dengan para awak pentas, pura-pura marah dan memberikan arahan. Penonton yang semula sangat pasif kemudian jadi encer dan tertawa, ketika batas tontonan ditembus seperti itu. Sejak saat itu pertunjukan menjadi komunikatif dan meriah.

Tapi apa kata seorang wartawan yang menulis di Radhar Mojokerto. Dia mengeritik saya dengan mengatakan bahwa aksi saya terganggu karena saya jadi sempat marah-marah pada awak pentas yang sebenarnya adalah anak buah yang sudah saya latih sendiri. Dalam contoh itu jelas, penulis resensi tidak paham, bahwa kemarahan itu disengaja untuk mengatasi keadaan, sehingga jurang antara penonton dan tontonan tertutupi, sebagaimana yang sangat biasa dilakukan dalam pertunjukan tradisi.

Mengingatkan betapa hebatnya kekayaan dalam teater tradisi dan betapa salahnya kalau memusuhi tradisi, memang sesuatu yang sudah klise. Tetapi terpaksa harus kita lakukan lagi sekarang, karena adanya arus balik untuk kembali mencampakkan tradisi dan terbius oleh hasrat berkiblat ke Barat. Kolonialisme budaya yang juga klise itu, harus kita lawan sebelum benar-benar menelan kita habis.


Jakarta 14 Desember 09

Jumat, 01 Januari 2010

Ibu Pertiwi

Ku lihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang, mas intan yang kau kenang. 

Hutan gunung sawah lautan, lintasan kekayaan, kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa.......

Lihatlah ibu pertiwi kita, yang selalu bersedih, alam semakin bringas mematikan kita, alam seakan membalas dendam atas kecerobohan kita, alam seakan enggan bersahabat dengan kita, kita adalah musuh dari Sang Pencipta dan yang dicipta-Nya, manusia sebagai mahkluk yang paling sempurna justru bersikap seperti mahkluk yang tak punya akal pikiran. Kebenaran dihanyutkan, kekeliruan diagungkan, kejahatan, ego, kesadaran, kabersamaan, semua hilang ditelan kerakusan kita. Mari sejenak kita renungkan, untuk apa kita hidup, seperti apa seharusnya kita hidup, kapankan kita bertahan hidup, apa yang kita persiapkan dengan akhir hidup, orang paling suci seperti Nabi-Nabi dan Kyai-Kyai tak terkecuali Gus Dur pun tak luput dari berakhirnya hidup, sedang kita?